Mendapatkan pekerjaan merupakan anugrah terbesar bagi orang yang sedang mencari kerja, tanda tangan kontrak kerja menjadi sejarah yang tidak pernah terlupakan yang tergores dalam tinta kehidupan.

Setelah itu mereka menjadi karyawan dengan harus menjalani proses pekerjaan sehari-hari, sebuah rutinitas yang suatu saat akan mencapai titik klimaks kebosanan.

Hanya ada satu alasan yang membuat kebosanan itu bisa di maklumi, gaji bulanan untuk penghidupan sehari-hari.

Seiring berjalannya waktu, sepertinya gaji saja belum cukup, ada satu ambisi yang harus di raih seorang karyawan yang lebih dari sekedar gaji. Ambisi tersebut adalah meniti karir sampai puncak tertinggi.

Akibatnya rutinitas yang membosankan berubah menjadi semangat yang tinggi, ada gairah dalam bekerja serta emosi dalam mengejar karir.

Satu persatu prestasi mulai di ukir, anak tangga karir mulai ditapaki meskipun terkadang harus mendorong orang lain agar perjalanan menuju puncak tangga terasa lebih mudah dan tanpa rintangan.

Tapi taukah anda bahwa ada yang harus dipahami agar karir anda tidak sia-sia.

Karir adalah kumpulan amalan sepanjang kita bekerja, semuanya tercatat baik dalam manifesto administrasi perkantoran dan buku catatan amal yang nantinya akan diterima di hari pengadilan nanti.

Oleh sebab itu memahami hal ini akan membuat hidup anda terasa bahagia.

Cintailah Pekerjaanmu

Dua kata diatas adalah rangkaian kata klasik yang membosankan, bisa jadi hampir setiap hari selama masa kerja anda, atasan bahkan rekan kerja sering mengatakannya.

Tapi taukah anda ungkapan itu tidak sempurna. Kata itu di potong sehingga tidak menjadi kalimat yang sempurna. Karena sangat beresiko jika diketahui di awal-awal karir anda.

Maka dari itu biarkan melalui tulisan ini saya mencoba melengkapi puzzle yang hilang tersebut.

Ungkapan tersebut adalah…

Cintailah Pekerjaanmu Bukan Perusahaanmu, Karena Anda Tidak Pernah Tahu Kapan Perusahaan Berhenti Mencintaimu.

Sebagai seorang karyawan yang meniti karir maka ada yang lebih dari sekedar gaji dan karir, yaitu kecintaan kepada pekerjaan.

Lakukan semuanya seolah-olah anda bekerja pada perusahaan milik sendiri, sehingga suatu saat nanti anda akan tahu bagaimana cara mendirikan perusahaan sendiri.

Jika tiba masanya rasa cinta itu pudar, anda akan mudah berpindah hati.

Bekerja Total, Tuntas dan Ikhlas

Tidak ada pekerjaan yang mudah, itulah sebabnya perusahaan menggaji setiap karyawan, gaji di ukur berdasarkan tingkat kerumitan dan tanggung jawab. Sekali-kali memberikan reward dan punishmentnya.

Jika anda mencintai pekerjaan anda memang tidak akan mengurangi volume beban pekerjaan, hanya saja pekerjaan akan sangat nikmat dijalani.

Lakukan semua assigment tugas dengan totalitas agar pekerjaan itu tuntas, tidak ada pekerjaan yang benar-benar sempurna, karena kesempurnaan hanya milik allah. Sebab itu ikhlas menjadi bagian penting setelah lelahnya bekerja total dan tuntas.

Bekerja total, tuntas dan ikhlas bukan hanya mampu menopang karir anda. Bahkan pada titik tertentu perusahaan tidak mampu lagi menggaji anda.

Totalitas akan melahirkan loyalitas tanpa batas. Loyal inilah yang diperlukan perusahaan. Sekali lagi bukan cinta.

Kejar Manfaat Bukan Banting Tulang Mengejar Karir

Dunia kerja memang terasa silau bagi orang yang tidak memiliki mata yang kuat untuk melihatnya, gaji, pangkat, jabatan dan kehormatan menjadi alasan semua orang untung bertarung memperebutkannya.

Jika sudah begini maka mengorbankan orang lain menjadi hal biasa yang penting karir kita lancar jaya.

Tapi taukah anda bahwa hidup itu bukan soal karir, hidup itu soal bermanfaat, daya guna untuk setiap manusia.

Karir dan umur itu memiliki masa expirednya. Anggaplah bekerja di swasta lamanya bisa sampai usia 55 tahun sebelum pensiun.

Maka saat itu juga hilang semua apa yang telah dicapai dalam karir, ditutup dengan selembar kertas tanda tangan pensiun. Sementara luka yang pernah ditorehkan kepada orang lain masih basah dan mengganga.

Tapi coba bayangkan jika selama bekerja yang diberikan adalah manfaat, membantu rekan kerja, menjaga suasana kerja tetap kondusif dan tanpa saling sikut untuk mendapatkan posisi.

Diusia pensiun umur 55 tahun akan menjadi masa-masa yang paling tenang dan damai, rekan kerja yang juga sudah pensiun akan datang kerumah hanya untuk bercerita masa-masa kerja dulu, tertawa, ceria sambil menghabiskan kopi di ruang tengah.

Manfaat itu selamanya, bekasnya sulit hilang sedangkan amalnya akan terus dibawa sampai pulang nanti, sementara karir itu ada batasnya, tidak abadi dan semua yang tidak abadi pasti menipu.

Resign

Setiap perjalan karir yang panjang itu adalah misteri, maka bersiaplah. Ada fase dimana mengejar karir itu membosankan, rutinitas pekerjaan itu melelahkan.

Bayangan yang paling menakutkan adalalah ketika sampai pada titik anda mencintai perushaan anda dan perusahaan berhenti mencintai anda.

Tapi jika anda memahami poin-poin sebelumnya dan berhasil menerapkan dalam perjalanan karir anda, maka momen resign ini mungkin adalah hal yang paling di tunggu-tunggu.

Resign itu bukanlah perkara mudah, butuh mental kasatria dan hati baja untuk memulainya. Tapi taukah anda bahwa ungkapan ini memang ada benarnya juga.

“Karir Tertinggi Seorang Karyawan Adalah Resign”

Resign adalah pertanda anda telah matang, telah sukses menerapkan semua hal, telah banyak belajar sampai anda yakin bahwa harus menerapkannya pada perusahaan yang anda miliki sendiri.

Babak baru paska resign tentu juga tidak kalah serunya seperti awal dimana anda menandatangani kontrak kerja.

Semuanya penuh misteri, tapi modal totalitas, tuntas dan ikhlas akan sangat menjadi penentu pada masa-masa awal rintisan perusahaan anda.

Percayalah…

Dulu sayapun sama seperti anda, berkarir di usia 23 tahun dengan memegang jabatan strategis, hanya berada di bawah satu garis jabatan tertinggi pada salah satu divisi perusahaan membuat saya merasa bahwa diusia 40 tahun akan mencapai top karir di perusahaan tersebut.

Tapi rupanya waktu begitu cepat, diusia 27 tahun saya telah mencapai puncak karyawan “Resign”. Dan membuka babak baru yang tidak kalah serunya. Memasuki rimba bisnis yang penuh dengan teka-teki.

Tapi saya yakin dengan modal mencintai pekerjaan, totalitas dalam bekerja serta tujuan hidup agar menjadi bermanfaat membuat teka-teki dalam meraih peluang bisnis menjadi mudah terpecahkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here