Cerita Picisan Yang Tak Kunjung Usai

Berjuta buku, ribuan halaman artikel maupun jurnal telah banyak di terbitkan yang mengulas dan membahas tentang pergolakan dan dinamika kampus yang mana kesemuanya menyetujui bahwa kampus merupakan sebuah komunitas intelektual dan simbol peradaban.

Oleh karenanya kampus semata-mata sebagai kelanjutan peradaban dan perkembangan sosial memliki keistimewaan tersendiri, artinya keistimewaan kampus benar-benar didasarkan pada kebenaran suatu ilmu. Yaitu bagaimana ilmu itu diajarkan, dikembangkan dan dimanfaatkan bagi kemajuan manusia.

Namun akibat dari proses panjang tentang pendidikan kampus dan kebenaran suatu ilmu pengetahuan telah melahirkan cerita baru yang menjadi perdebatan yang belum kunjung selesai. Yaitu lahirnya produk kaum akademisi dan praktisi yang mana keduanya murni anak kandung dari intelektual dan dunia pendidikan kampus. yang mana agaknya pertikaian antara kedua saudara kandung tersebut tidak akan pernah selesai, tentang apakah kaum intelektual pantas masuk ke wilayah politik atau tidak. Artinya ada dua pandangan yang menjadi perdebatan disini.

Pertama, menurut pandangan akademisi bahwa dunia intelektual harus benar-benar terpisah dari wilayah politik, karena memang pada dasarnya antara intelektual dan politik memiliki logika yang berbeda. Bagi seorang akademisi, kaum intelektual mestinya berposisi sebagai penceramah yang mengabarkan nilai-nilai kebenaran, moralitas, kesadaran keilmuan dan norma-norma intelektualitas. Artinya bahwa kaum intelektual tidak boleh terjun dan masuk dalam kubangan limbah politik yang mana hanya sering membicarakan kepentingan, untung dan rugi sehingga mengabaikan moralitas dan menodai dunia intelektul.

Kaum intelektual yang masuk kedalam wilayah politik bukan lagi intelektual sejati tetapi mereka yang telah” melacurkan diri” dan rela diperkosa secara nurani oleh birahi kekuasaan, karena tidak memakai lagi nilai-nilai dasar dan mengabaikan norma-norma intelektualitas.

Kedua, menurut pandangan para praktisi bahwa dunia intelektual tidak boleh terasing, terpisah dan menyendiri dari masyarakat. Justru sebaliknya, kaum intelektual harus terlibat dalam hiruk pikuk dunia nyata. Seeorang yang terdidik memiliki tanggungjawabnya terhadap perkembangan masyarakat. Para praktisi menggangap bahwa kaum akademisi segan menyeburkan diri dalam dinamika masyarakat dan hanya sibuk dalam keilmuannya sendiri. Para praktisi menyebutnya “intelektual langit”.

Para praktisi mengatakan bahwa intelektual jenis akademisi adalah “penghianat” terhadap peran dasarnya sebagai agen perubahan (agent of change). Mereka hanya puas dengan pencapaiannya sendiri dengan kepuasan akademik tetapi lupa akan tugas-tugas kemasyarakatan yang mestinya diembanya, justru sebagai konsekwensi dari ilmu-ilmu yang dipelajari dan dikuasainya.

Penulis berpendapat bahwa perbedaan itu sejatinya lebih pada persoalan teknis saja diamana seorang intelektual mempertanggungjawabkan atas ilmu yang dia miliki dan pelajari. Substansinya sama, bahwa kaum intelektual haruslah mempunyai tanggung jawab terhadap masyarakat, hanya saja bentuknya yang berbeda beda. Kaum akademisi lebih pada dimensi nilai,moral dan kemurnian ilmu, sedangkan para praktisi lebih pada keterlibatan praktis didalam dinamika kehidupan masyarakat.

Namun hasil dari pertikaian antara kedua intelektualitas itu dapat kita rasakan dan kita lihat dimana munculnya dua perbedaan fenomena mencolok atas kedua perbedaan itu. Misalnya fenomena dosen yang sangat idealis dan dosen yang meninggalkan tugas pokoknya sebagai seorang dosen, mahasiswa yang lebih senang mengurusi masalah politik daripada mengikuti perkuliahan. Dan intervensi dosen untuk menggerakan mahasiswanya mengurusi masalah politik daripada diajak belajar/ kuliah.

Penulis hanya mengatakan bahwa itu semua hanya merupakan fenomena yang menuntut diri kita untuk menyikapi sendiri tentang sebuah fenomena. Hidup ini adalah pilihan dan semua orang harus memilih. Semoga kita tidak termaksud dalam orang yang salah dalam mengambil pilihan. Amiiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here