Dinamika Hubungan Amerika Serikat dan Israel

30
Hubungan Amerika dan Israel

Dalam menjalin sebuah hubungan antara negara tentunya ada faktor-faktor  tentang mengapa hubungan itu bisa terjadi, sehingga faktor-faktor tersebut yang akan mempengaruhi alur dari hubungan tersebut apakah hubungan itu baik atau bahkan hubungan itu buruk. faktor-faktor tersebut yaitu, kerjasama, persaingan dan konflik. Konflik ini yang nantinya apabila tidak dapat di selesaikan oleh kedua negara yang berhubungan akan menghasilkan kemungkinan terburuk yaitu perang.  

Ada anekdot yang mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Israel merupakan saudara kandung yang tidak kembar, ini merupakan gambaran tentang bagaimana intimnya sebuah hubungan antara Amerika Serikat dengan Israel, artinya bahwa hubungan ini bukanlah hubungan biasa saja antara negara satu dan negara yang lain yang hanya dilandaskan atas kerjasama ekonomi, hubungan dagang ataupun kerja sama politik, bahkan hubungan ini melebihi keintiman dari negara-negara persemakmuran kepada induknya, misalnya Inggris dengan Malaysia.

Hal yang membuat Amerika dan Israel ini dikatakan saudara kandung yang tidak kembar dapat dilihat pada dasar sejarah kedua negara tersebut, kedua negara ini mengalami cerita sejarah yang hampir sama. Hal yang paling mendasar dalam mendirikan sebuah negara adalah harus memiliki tanah air. Tanah air inilah yang tidak dimiliki oleh Amerika Serikat dan Israel, dimana tanah yang mereka ingin dijadikan negara sudah dihuni selama berabad-abad oleh penduduk asli tanah tersebut. Orang-orang yang sekarang berada di Amerika merupakan para imigran dari Inggris dan beberapa negara-negara Eropa lain yang di akibatkan oleh revolusi Inggris, Amerika saat itu masih terbagi dalam 13 wilayah koloni Inggris. Begitu pula dengan Israel mereka merupakan masyarakat Yahudi yang terdiaspora ke berbagai negara dan benua dan kemudian berimigrasi ke wilayah Palestina karena aksi Genosida di Jerman. Awalnya kedua negara tersebut datang ke tanah itu dengan status sebagai imigrasi dan kemudian akhirnya menggusur dan mengusir penduduk asli negara tersebut, Amerika Serikat mengusir penduduk suku Indian yang merupakan penduduk asli dan Israel mengusir penduduk Arab Palestina.[1]

Hubungan Amerika Serikat dan Israel secara resmi dimulai pada saat Israel mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara yang merdeka yaitu pada tanggal 15 Mei 1948. Namun hubungan antara keduanya ini sebenarnya sudah mulai terjalin jauh sebelum Israel menjadi negara yaitu hubungan antara Zionis dengan Amerika Serikat saat organisasi ini resmi dibentuk pada Pada tahun 1897 yang diketuai Theodor Herzl. Hubungan ini masih bersifat antara organisasi Zionis Amerika dengan Negara Amerika Serikat. Warga AS yang keturunan Yahudi memiliki posisi-posisi penting pada pemerintahan sehingga dapat mempengaruhi kebijakan Amerika Serikat.

Terbentuknya Negara Israel tidak terlepas dari campur tangan AS, dimana pada 11 Mei 1942 organisasi Zionis Amerika bersidang di New York dan menghasilakn program biltmore yang diajukan oleh David Ben Gurion, ketua komisi eksekutif Agen Yahudi. Program ini berisi tentang, pendirian Negara Yahudi yang mencakup seluruh wilayah Palestina (Israel Raya), pembentukan militer Yahudi dan penolakan naskah putih 1939 serta diteruskanya proyek pengiriman imigrasi yang tidak terbatas ke Palestina yang tidak hanya di awasi oleh Inggris, tetapi juga oleh agen Yahudi Amerika. Program ini menjadi kegiatan intensif Zionis di kalangan politisi terkemuka di AS. Banyak badab legislatif negara bagian yang mengesahkan resolusi pro-Zionis. Dan pada bulan Februari 1944 suatu resolusi dikemukakan dikedua bilik kongres AS. Resolusi tersebut meminta dibukanya Palestina bagi imigrasi Yahudi yang tidak terbatas dan pembangunan kembali Palestina sebagai suatu persemakmuran Yahudi yang bebas dan demokratis, resolusi ini juga mengharapkan campur tangan Amerika Serikat secara resmi untuk mencapai tujuan itu.[2]

Hubungan mesra antara Amerika Serikat dan Israel bisa dilihat pada saat presiden dan perdana mentri saat itu, dimana Amerika saat itu di pimpin oleh Harry S Trauman dan Israel dipimpin oleh David Ben-Gurion. Dimulai dengan hubungan pemimpin kedua negara ini kita dapat melihat tentang hubungan resmi Amerika Serikat dan Israel.

Lobi Israel Masuk Washington

Di awal abad ke-20 di tahun 1916, Loise de Brandis, diutus oleh kader kepemimpinan zionisme di Eropa untuk menarik dukungan warga Yahudi Amerika. Idenya untuk memperkenalkan zionisme bukan sebagai sebuah gerakan nasionalis, akan tetapi sebagai gerakan pencari jalan keluar untuk menyelamatkan bangsa Yahudi, membuat para pendukung zionisme di AS melonjak dari 12 ribu orang menjadi 150 ribu orang. Brandis sendiri berkata : “Dukungan kepada zionisme bukan berarti hijrahnya seorang Yahudi atau perolehan kewaraganegaraan asing. Tetapi, untuk menciptakan Amerika yang lebih baik, kita harus menjadi Yahudi yang baik, dan untuk menjadi Yahudi yang baik, kita harus menjadi seorang zionis.” [3]

Efektifitas slogan seperti itu dalam menarik keanggotaan dari masyarakat Yahudi Amerika, telah membuka peluang yang amat luas bagi terbentuk dan terlembaganya masyarakat Yahudi Amerika. Dengan demikian, setelah berabad-abad, melalui warga Yahudi imigran dan dengan bantuan zionis Eropa, terbentuklah masyarakat Yahudi AS; dan Amerika pun dipilih sebagai tempat yang dianggap paling sesuai untuk pusat aktifitas mereka.[4]

Beberapa bulan setelah Ben-Gurion (1948) diumumkan menjadi perdana menteri pertama Negara Israel hal pertama yang dia lakukan adalah untuk menguatkan Organisasi Zionis Amerika, karena Ben-Gurion menilai bahwa kunci akan terlaksananya agenda besar Zionis dalam pembentukan Israel Raya (meliputi seluruh wilayah Palestina) berada pada pengaruh Organization of America’s Jewish Philanthropies. Organisasi Zionis Amerika ini pernah bertanya kepada komunitas Yahudi AS yang juga dihadiri oleh Ben-Gurion tentang apa yang dibutuhkan oleh Negara Israel?, dengan cepat dan terang-terangan dia menjawab yang di butuhkan oleh Israel adalah Orang Yahudi.[5]

Israel hanya menemukan sedikit Yahudi Amerika yang pindah ke Israel, dalam tiga tahun pertama Israel menjadi sebuah negara, Israel menyerap setidaknya 650.000 imigran yang mayoritasnya berawal dari Benua Eropa. Saat itu kondisinya adalah banyak Yahudi Amerika yang sangat berpengaruh di Amerika namun mereka masih belum yakin berkorban untuk Israel sehingga Ben-Gurion meyakinkan mereka untuk berkorban demi Israel dengan mengatakan bahwa Israel sangat membutuhkan orang Yahudi. Dan hasilnya dalam sebuah laporan penelitian dikatakan bahwa sekitar 35.000 warga Yahudi Amerika dan juga Kanada berhasil diajak untuk pindah ke Israel pada tahun pertama Israel menjadi sebuah negara, sedangkan 5.400 warga Yahudi AS memilih untuk tetap bertahan.[6]

Ben-Gurion membagi Yahudi AS menjadi dua kategori, yang pertama adalah anak-anak muda produktif mereka di kirim langsung ke Israel, tujuannya adalah untuk membangun Negara Israel, lebih spesifik lagi membangun infrastruktur Israel, Sedangkan kategori yang kedua adalah orang tua yang mapan, mereka adalah orang-orang yang dipertahankan oleh Ben-Gurion untuk tetap tinggal di Amerika Serikat dengan tujuan sebagai penyuplai dana serta menjadi pelobi utama yang mempengaruhi kebijakan  Amerika Serikat untuk menciptakan Israel Raya.

Seiring berjalanya waktu akhirnya Israel telah berhasil menempatkan orang-orang mereka ke Washington, mereka berhasil menguasai seluruh aspek kehidupan masyarakat AS, Mulai dari kongres AS, para senator, media massa, siaran TV internasonal, percetakan buku, universitas dan lain-lain, serta akhirnya  menjadi penyambung hubungan antara Israel dan Amerika serikat.

Lobi AIPAC (American Israel Public Affair Committee)

Kerja keras Ben-Gurion nampaknya tidak sia-sia dan mulai membuahkan hasil, upayanya ketika pertama kali terpilih menjadi perdana menteri pertama Israel untuk menyatukan kelompok-kelompok dan komunitas yahudi di AS serta membangkitkan jiwa semangat nasionalisme yahudi terhadap Israel sudah sangat terasa dampaknya.

Semangat nasionalisme yang di doktrinkan oleh Ben-Gurion terhadap Yahudi AS telah melahirkan banyaknya organisasi-organisasi serta kelompok kepentingan yang sangat pro-Israel, mereka ikut terlibat baik secara langsung dan tidak langsung dalam mempengaruhi kebijakan AS dalam menentukan nasib Israel.

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa organisasi-organisasi Yahudi di AS telah mencapai 340 organisasi dengan berbagai macam dan jenisnya serta kepentingan-kepentinganya yang intinya untuk melonggarkan serta mengawal  kebijakan-kebijakan Amerika terhadap tindakan-tindakan Israel, setiap warga Yahudi AS diwajibkan untuk mengikuti minimal salah satu dari organisasi-organisasi yang ada. Sehingga disini dapat terlihat jelas bagaimana keeratan dan keakraban antara masyarakat Yahudi di AS, duduk berdampinganya atau bahkan sama rata antara Yahudi miskin dengan Yahudi miliyuner.[7] Ada beberapa macam organisasi atau kelompok kepentingan yang sering terdengar gaungnya di AS atau sering nampak ke permukaan diantaranya adalah American Jewish Congress, ZOA (Zionis of America), Israel Policy Forum, American Jewish Committee, Religious Action Center of Reform Judaism, American For Safe Israel, Mercaz USA dan AIPAC (American Israel Public Affair Committee). Dari nama-namanya kita sudah bisa menebak ataupun menduga tentang tujuan dari organisasi atau kelompok kepentingan ini, tidak lain tugas dan tujuan mereka adalah bertanggung jawab untuk melobi kongres AS, ikut dalam pemilihan anggota kongres ataupun senat dengan tujuan untuk merealisasikan segala kepentingan Israel.

Nama terakhir dari organisasi yang Penulis sebutkan diatas yaitu AIPAC merupakan jantung ataupun motor pengerak dari seluruh organisasi Yahudi yang ada di AS, AIPAC (American Israel Public Affair Committee) merupakan kelompok kepentingan yang bergerak dalam penentuan kebijakan-kebijakan AS, kelompok kepentingan ini terlibat telalu jauh terhadap AS dalam fungsi AS untuk menjalankan tugasnya sebagai sebuah negara.

Dalam pentas politik AS kelompok ini memiliki andil yang sangat besar dalam pemilihan Presiden ataupun pemilihan anggota kongres, di AS hanya ada dua partai yang akan bertarung untuk pemilihan Presiden. AIPAC dalam hal ini melakukan negosiasi dan lobi-lobi politik pada ketua-ketua partai, dengan menawarkan berbagai macam hal, seperti media massa sebagai sarana kampanye dan tawaran bantuan dana, Yahudi mengupayakan agar hasil negosiasi itu menghasilkan dukungan partai terhadap problematika mereka. Selain dana dan dukungan media massa, mereka pun menawarkan tambahan suara pemilih dari sekitar 6 juta warga Yahudi Amerika Serikat. Jika tawaran mereka diterima, dengan gencar mereka mulai mengampanyekan kandidatnya melalui berbagai janji kepada bangsa Amerika untuk menambah suara pendukung, mereka tidak segan-segan turun langsung ke jalan-jalan. Jelaslah, mengapa presiden-presiden Amerika selalu mengarahkan kebijaksanaannya pada kepentingan Yahudi[8]

      AIPAC sangat diperhitungkan dalam Kongres AS, bahwa sebagian kalangan menilai bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh Kongres AS merupakan pesanan dari AIPAC. Sepak terjang AIPAC dalam perpolitikan di AS sangatlah tinggi dan dalam sehingga para analisis menyebut AIPEC sebagai lobi Israel atau agen Israel yang berada di AS.

Kuatnya lobi Israel (AIPAC) terhadap pemerintah AS tidak terlepas dari strategi yang digunakan oleh para pelobi Israel sebagai upaya mengendalikan kebijakan-kebijakan AS agar selalu memberi keuntungan bagi Israel.  para pelobi berusaha menanamkan pengaruh dan kekuatannya di Gedung Putih, Kongres, dan lembaga-lembaga eksekutif lain. Dengan pengaruh yang kuat terhadap lembaga-lembaga ini, israel akan dengan mudah mengendalikan kebijakan (luar negeri) AS untuk selalu menguntungkan Israel. Salah seorang anggota Kongres AS pernah mengatakan, “ prioritas pertama saya adalah, bagaimana kebijakan luar negeri kita melindungi Israel”.[9]

Presiden AS sendiri biasanya adalah orang-orang yang mendapat dukungan ataupu restu dari AIPAC. Bahkan para analis mengatakan bahwa calon presiden yang mendapat dukungan dari Lobi Israel sudah hampir dipastikan menang dalam pemilu presiden. Melihat dari fenomena diatas bahwa tidaklah mungkin ada makan siang gratis dalam politik. Presiden yang terpilih harus menerapkan “terima kasih politik” terhadap apa yang telah di korbankan dan dilakukakn oleh Lobi Israel. Maka tidaklah heran segala tindakan yang dilakukan oleh Israel selalu mendapat dukungan dan bantuan dari AS itu sendri sebagai ungkapan terima kasih.

Israel dan Eksekutif AS

Berbicara masalah hubungan suatu negara tidak lebas dari peran seorang Kepala Negara, hubungan Israel dan AS tidak dapat dipisahkan dengan presiden yang saat itu sedeng menjabat. Seperti yang sudah Penulis paparkan diatas bahwa kebijakan (luar negeri) AS tidak terlepas dari kepentingan Israel di dalamnya. Setiap presiden terpilih selalu mendukung kebijakan Israel terutama di kawasan Timur Tengah.

Namun hubungan Israel dengan Presiden AS tidak selalu berjalan mulus-mulus, terkadang ada kebijakan Israel yang dianggap sudah terlalu mencapuri kapasitas AS sebagai sebuah negara yang merdeka. Perselisihan ini yang kemudian meregangkan hubungan kedua negara tersebut.

Harry Trauman (1945), merupakan sosok yang sangat berperan penting dalam kemerdekaan Israel. Pada 13 Agustus 1945 Trauman menghimbau kepada PM Inggris, Clement Attlee, agar segera megizinkan 100.000 pegungsi Yahudi masuk ke wilayah Palestina. Ini merupakan rencana besar dalam rangka menyokong kemerdekaan Israel. Trauman sendiri yang akan bertanggungjawab atas pegungsi-pegungsi Yahudi ke Palestina.

Pada 14 Mei 1948 Inggris secara resmi mengakhiri mandatnya atas tanah Palestina, pada hari yang sama Dewan Nasional di Tel Aviv memproklamasikan negara Yahudi Israel. Beberapa jam kemudian Presiden Trauman mengakui secara de facto negara baru ini atas nama AS. Dari sini kita tidak dapat meragukan bagaimana istimewa hubungan AS-Israel pada saat itu.[10]

Eisenhower (1957), ketika dia terpilih menjadi Presiden AS, hubungan AS-Israel tidak seramah ketika AS dipimpin oleh Trauman. Ini mungkin dikarenakan Eisenhower berasal dari partai republik yang sangat berbeda pendapat dengan partai demokrat, yang kelihatanya lebih memihak Israel. Eisenhower memperkenalkan istilah baru “ politik bersahabat tidak memihak Timur Tengah”. Ini adalah secara halus menyinggung secara halus bahwa mereka tidak memihak Israel, timur tengah yang dimaksud adala Israel.[11]

Kebijakan AS terhadap Israel agak sedikit berubah, kunjungan Menteri Luar negeri, Dulles, ke negara-negara Timur Tengah sepertinya membawa harapan baru bagi kondisi politik disana. Dulles, membuat laporan resmi yang menyatakan “AS akan menyelesaikan dendam bangsa Arab akibat pembentukan negara Israel dan akan mencegah invasi Israel ke negara Arab terutama Palestina”. [12]

Nixon (1974) dan Carter (1980), kedua presiden AS ini terkenal dalam sejarah sebagai Presiden yang menantang secara terang-terangan kepada Israel, mereka megangap bahwa Israel telah menyebabkan kerugian dan hanya menjadi beban AS. Mereka berdua menuding bahwa menurunya citra AS di wilayah Timur Tengah dan masyarakat Muslim dikarenakan ulah AS yang selalu mendukung Invasi ilegal Israel.

Spiro Agnew, wakil presiden Richard Nixon, Dalam wawancara dengan wartawan Washington Star atas kefrustasian politik Amerika Serikat di Timur Tengah, Agnew mengatakan: “Separuh dari anggaran belanja Amerika Serikat telah habis untuk membantu Zionis Israel. Padahal, dana tersebut disediakan untuk proyek-proyek memperbaiki perekonomian rakyat Amerika. ” Agnew pun menegaskan bahwa berkembangnya kapitalis-kapitalis Yahudi di Amerika Serikat berkat pengorbanan rakyat Amerika.[13]

Jenderal George Brown kepala Militer pada massa Nixon.menghina secara terang-terangan Israel Lewat siaran pers tahun 1974, Brown mengatakan: “Israel tidak lebih dari bocah Amerika yang kolokan. Setelah menguasai negara, bank, dan media massa, mereka menjadi beban militer Amerika.” Karena aparat politik Amerika tetap berada dalam genggaman Yahudi, tahun 1975, Jenderal Brown kembali mengatakan: “Sebagai warga negara Amerika, kami merasa begitu diremehkan.[14]

Jimmy Carter, di cap oleh Israel sebagai Presiden yang sangat berbahaya dan akan megancam keberadaan di Israel di Timur Tengah. Rabin seorang anggota American Jewish Community mengatakan bahwa Carter adalah penyebab masalah (kepentingan Israel) politik domestik AS. Kemudian dia melanjutkan “ Israel kemungkinan akan membayar mahal dan juga akan mengalami masa terberat sampai pada terpilihnya pemimpin baru AS”. Ini menggambarkan bagaimana ketakutan Israel terhadap kepemimpinan Carter.[15]

Ketakutan sekaligus kebencian Israel terhadap Carter semakin menjadi-jadi ketika Carter berbicara tentang perdamaian atas Palestina. “ Tanah Palestina adalah milik  Palestina, Israel tidak seharusnya berada disana. Dan mereka (Arab Palestina) tidak akan menyerah untuk menghancurkan Israel. Dan itu harus diatasi. Kita harus menyediakan tempat tinggal bagi pegungsi Palestina yang sudah sangat menderita di pegungsian bertahun-tahun lamanya”.[16]

Ronal Reagen (1980). Reagen membawa angin segar bagi kelangsungan hubungan AS-Israel, dia merupakan Presiden yang dianggap menjadi pintu masuk kembalinya pengaruh lobi Yahudi di AS. Terpilihnya Reagen tidak terlepas dari partisipasi lobi Israel dalam pemilu. Reagen di dukung sepenuhnya oleh Yahudi AS, baik berupa sokongan dana dan juga peran media dalam kampanye.

Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Reagan menjadi awal dari lahirnya organisasi AIPAC, organisasi ini yang menjadi AIPAC, organisasi ini yang sampai dengan saat ini menjadi organisasi yang sangat mempengaruhi kebijakan luar negeri AS dalam melonggarkan kepentingan Israel di Timur Tengah. Dan Reagen juga yang telah menciptakan istilah Anti-Semit, artinya ketika ada orang ataupun negara yang sangat membenci Yahudi maka dia telah melakukan perbuatan rasial yang sangat dikecam oleh negara demokratis.

George Bush (1989), dikenal sebagai aktor tejadinya perang teluk pertama yang telah mengnhabiskan belanja negara, karena semuanya dialokasikan untuk perang Teluk. Juga Bush Senior di kenal aktor kontroversial bagi negaranya sendiri, saat itu dia membuat sebuah kebijakan yang dianggap telah kembali membuang-buang uang negara bukan untuk kesejahteraan rakyat AS.

Sejarah pernah mencatat bahwa rakyat AS pada tahun 1991 keberatan terhadap George Bush senior ketika ia mengirimkan bantuan senilai $10 miliyar untuk Israel agar bisa membangun pemukiman. Waktu itu yang menjadi perdana menteri Israel adalah Yitzhak Shamir. Yitzhak kemudian berkata, “Sangat penting untuk mendapatkan pesan yang jelas dari AS untuk para pepimpin Israel, karena presiden AS kemudian bisa mendatangi konstitusinya dan megnatakan, ‘ayolah, saya tahu ini keputusan sulit, dan saya pun tidak menyukainya. Tapi rekan dekat kita menginginkan kita melakukan hal ini, jadi kita memang perlu melakukan hal ini’.[17]

Pada tanggal 2 November 1988: salah seorang pembantu Presiden George Bush menyatakan bahwa koalisi strategis antara Amerika dan Israel merupakan kunci utama perdamaian di kawasan Timur Tengah, tetapi walaupun demikian Bush tetap mempunyai sikap yang tidak akan berubah untuk menolak terbentuknya Negara Palestina merdeka.[18]

Hubungan As-Israel pada masa ini bisa dikatakan hubungan kemesraan antara kedua negara, sikap Amerika yang selalu membantu Israel baik berupa dana maupun dukungan moral serta komitmen yang kuat untuk tidak megiginkan Palestina menjadi sebuah negara.

Bill Clinton (1993). Ketika terpilih menjadi Presiden AS, keadaan politik dunia saat itu masih dalam perbaikan pasca perang dingin. Clinton diharapkan dapat mencairkan suasana pasca perang dingin dan juga dapat menjadi mediator untuk perdamaian di Timur Tengah serta dapat menyelesaikan urusan Palestina.

Namun sayangnya lobi Israel sangat kuat dalam mempengaruhi kebijakan di wilayah Timur Tengah khususnya Palestina, sehingga amanat untuk meredamkan suasana paska perang teluk menjadi tidak tercapai, bahkan Amerika tetap terikat untuk terus membantu Israel secara intensif dan berkelanjutan dalam menghadapi setiap ancaman terhadap Negara itu. Selain itu Amerika juga akan terus meningkatkan hubungan diplomatic strategisnya dengan Israel , agar keamanan Israel tetap terjamin.

Bahkan kebijakan dari Clinton yang paling ekstrim adalah tentang dukungan AS terhadap Israel untuk menjadikan kota Jerusalem sebagai Ibukota dari Israel dan memindahkan keduataan AS dari Tel-Aviv ke kota Yerusalem.

George W Bush (2001), berbicara tentang diri Bush Jr ini masih sangat segar diingatan kita saat ini dengan berbagai macam kebijakannya yang mengangap bahwa perdamaian itu akan timbul jika kita memerangi sumber-sumber yang menjadi penyebab konflik. George W Bush telah menghabiskan uang AS untuk membiayai perdamaian yang menurut versinya dengan membombardir wilayah Timur Tengah. Tindakan ini yang banyak menimbulkan penafsiran oleh para ahli yang mengatakan bahwa George W Bush merupakan orang gila yang physcopat. Bush Jr inilah yang mengeluarkan istilah Terrorism yang mana aktornya adalah masayarakat muslim dan tindakan ini harus diperangi oleh setiap negara.

Selama masa kepresidenan Bush Junior (George Walker Bush) sampai bulan Maret 2003 ini telah mengeluarkan sekitar 150 kebijakan politik khususnya dalam negeri untuk membantu menanggulangi krisis ekonomi dan politik Israel dan 150 resolusi yang mengenyampingkan hak-hak rakyat Palestina terhadap tanahnya.Bahkan lebih dari itu, dalam setiap resolusi itu, Amerika terus mengecam aksi perlawanan rakyat Palestina terutama aksi bom syahid. Mereka juga telah memasukan Jihad Islami, Hamas, Hizbullah dan hampir semua pergerakan perlawanan Palestina dalam daftar organisasi teroris internasional yang akan diperangi oleh Amerika.[19]

Masa ini adalah masa-masa emas Israel dan AS dalam mencapai segala kepentingannya di Timur Tengah, dan merupakan mimpi buruk bagi bangsa Arab dan jugu masyarakat muslim, karena pada masa pemerintahan ini hampir setiap tanah di Timur Tengah khususnya Palestina selalu dibasahi oleh air mata dan banjir darah anak-anak dan orang tua.


[1] Anonymous. Amerika dan Israel dibangun dengan sejarah yang sama. Mei 24 2010 ,

http://www.eramuslim.com/berita/analisa/karena-amerika-dan-israel-dibangun-dengan-sejarah-yang-sama.htm (accessed Maret 24, 2012)

[2] George Lewezowski. Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia. Vol. Edisi ketiga. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1993. Hal 245

[3] Anonymous. Infiltrasi Zionisme di AS. Desember 31, 2007

http://www2.irib.ir/worldservice/melayuRADIO/zionisme/infiltrasi-zion/dua.htm (Accessed Maret 29, 2012

[4] Ibid

[5] Edward Tivnan. The Lobby, Jewish Political Power and American Foreign Policy. New York: Touchstone Book, 1987. 29

[6] Ibid

[7] Islamic Understending. Lobi Yahudi di Amerika. Oktober 5, 2011

http://islamicunderstanding.wordpress.com/2011/10/05/lobi-yahudi-di-amerika/ (Accessed Maret 29, 2012)

[8] ibid

[9] Herry Nurdi. Membongkar Rencana Israel Raya. Jakarta: Cakrawala Publishing, 2009. Hal 280

[10] George Lewezowski. Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia. Vol. Edisi ketiga. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1993. Hal 251

[11] Ibid, hal 258

[12] Ibid hal 268

[13] Islamic Understanding. Tokoh Anti Yahudi. Oktober 5, 2011

http://islamicunderstanding.wordpress.com/2011/10/05/tokoh-anti-yahudi/ (Accessed, Maret 29, 2012)

[14] Ibid

[15] Edward Tivnan. The Lobby, Jewish Political Power and American Foreign Policy. New York: Touchstone Book, 1987. Hal 103

[16] Ibid Hal 102

[17] EraMuslim. Emanuel-Netanyahu-Obama: Tiga Poros Israel-AS. Maret 11, 2009

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/emanuel-netanyahu-obama-tiga-poros-israel-as.htm (Accessed, Maret 30, 2012)

[18] Anonymous, Hubungan Mesra AMERIKA dan ZIONISME-ISRAEL. November 25, 2009

http://scrapman.wordpress.com/2009/11/25/hubungan-mesra-amerika-dan-zionisme-israel/ (Accessed Maret 31, 2012)

[19] Ibid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here