Kisah Sukses AKP Di Turki

30

Pada tanggal 28 Agustus 2007, anggota parlemen Turki  memilih secara suara mayoritas mantan Menteri Luar Negeri Turki, Abdullah Gul (57 tahun) sebagai presiden Turki, untuk menjabat selama tujuh tahun.

Peristiwa ini merupakan kelanjutan dari kisah sukses Partai Pembangunan Keadilan (Adalet ve Kalkınma Partisi, AKP) yang berideologi Islam memenangkan Pemilu di Turki yang bersistem sekuler.

Sebelumnya, mereka telah memenangkan pemilihan umum parlemen Turki 2007 dimana  partai pendukung Perdana Menteri (PM) Recep Tayyip Erdogan itu memperoleh dukungan suara sebesar 46,6%.

Capaian ini meningkat 12 poin dibanding pemilu 2002. Dengan angka sebesar itu, AKP memperoleh 340 dari 550 kursi di parlemen. Hasil tersebut memperkuat bukti evolusi partai Islam AKP sebagai kekuatan politik di negara sekuler Turki.[1]

Peristiwa itu menarik untuk dikaji karena  Abdullah Gul adalah kader dari Partai Pembangunan Keadilan (AKP) yang berideologi Islam. Padahal, dunia perpolitikan Turki sejak tahun 1924 telah  didominasi oleh faham sekularisme yang disebarkan oleh Mustafa Kemal Attaturk.[2]

Berbagai upaya depolitisasi Islam yang dilakukan rezim sekuler telah menjadikan politisi Islam akhirnya terpinggirkan posisinya dalam percaturan politik.

Dengan istilah lain, sejak tahun 1924 itu, bisa dikatakan bahwa para politisi yang mengusung aspirasi umat Islam,  terpinggirkan posisinya dan tidak determinan dalam proses pengambilan keputusan publik.

Pasca pemilu 2007, politisi Islam di Turki  tidak lagi  di posisi pinggiran tetapi  menjadi  pemimpin politik (elective-political leader)[3] atau pemain politik (political player) yang memiliki posisi tawar (bargaining-position)  kuat dan menentukan dalam proses politik. 

Berbagai fakta terpilihnya  para politisi Islam menjadi pemain politik (political player) dan pemimpin politik eksekutif (elective executive political leader) di dalam kancah politik Turki yang sekuler,  menarik untuk dikaji  karena hal itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Hal itu sangat menarik  mengingat bertahun-tahun lamanya Turki dikuasai pemerintahan sekuler yang didukung militer.Selain itu, menarik untuk dikaji karena selama ini di Turki dan Dunia Islam pada umumnya  keberadaan partai politik Islam masih sering menjadi kontroversi. 

Telaah  ini sekaligus melengkapi kajian mengenai  sejarah panjang dinamika hubungan politisi Islam dengan politik di Turki dan Dunia Islam pada umumnya. Misalnya,  perkembangan sejarah menunjukan bahwa  kedudukan politisi Islam dalam pentas politik Turki mengalami pasang surut.


[1] http://www.republika.co.id/koran detail.asp?id=3001140&kat id=7, “Dibalik Kemenangan Abdullah Gul Di Pemilu Turki 2007”

[2] H.A.Mukti Ali,1994, Islam dan Sekularisme di Turki Modern, Penerbit Djambatan, Jakarta.

[3] Istilah pejabat politik di sini adalah menunjuk kepada “elective political leader” dimana  pejabat  mendapatkan kedudukan karena proses pemilihan umum. Hal itu berbeda dengan pemimpin birokrasi, yang menjadi pemimpin karena diangkat dalam suatu jabatan oleh pejabat yang berwenang. Lebih jauh baca Miftah Toha, 1991, Perspektif Perilaku Birokrasi (Dimensi-dimensi Prima Ilmu Administrasi Negara Jilid II), Rajawali Press, Jakarta, h. 142.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here