Konflik Israel dan Palestina
http://opasejarahdunia.blogspot.com

Prolog

Konflik Israel dan Palestina – Masuknya bangsa Yahudi ke wilayah Palestina yang semakin terorganisir dan mendiami tanah-tanah Palestina yang telah di beli sebelumnya mengakibatkan penolakan dari masyarakat Arab Palestina menjadi Konflik Israel dan Palestina

Gelombang imigran yang datang dari tahun ketahun membuat masyarakat Arab merasa tersingkir, sehingga ini yang menjadi percikan api, terjadi penolakan.

Demonstrasi dan kemudian menjadi pemberontakan masyarakat arab yang menuntut untuk dihentikannya pengiriman imigran Yahudi ke Palestina.

Pada tahun 1920-an Masyarakat Arab pun semakin menjadi-jadi ketika tuntutanya tidak di penuhi oleh Kerajaan Inggris.

Masyarakat Arab menuntut untuk memiliki hak pemerintahan sendiri dan meminta untuk dihentikannya imigrasi Yahudi serta penjualan tanah-tanah arab kepada yahudi. Arab dan Palestinapun bergejolak.

Tragedi munculnya tembok ratapan (1922) menambah barisan panjang sejarah tanah Palestina, munculnya gerakan-gerakan anti Yahudi di berbagai daerah. Ditengah tuntutan masyarakat arab untuk meminta pemberhentian imigrasi Yahudi ke Palestina.

Hitler Effect In German

kebangkitan Hitler (1933) di Jerman semakin memperparah keadaan, terjadi pembantaian besar-besaran kepada bangsa Yahudi dan mengakibatkan eksodus Yahudi ke Palestina semakin meningkatkan Konflik Israel dan Palestina

Tercatat 60.000 jiwa imigran sampai pada tahun 1939, Antara tuntutan masyarakat Arab dan tragedi pembantaian Yahudi di Jerman. Ini  menjadikan proses penghentian imigran sulit dihindarkan.

Bangsa Arabpun melontarkan protes keras dan berujung pada revolusi rakyat Palestina yang menjadi api pelecut perang. Sumber (George Lewezowski, Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia, Edisi ketiga. Bandung: Sinar Baru Algensido. 1993 hal 241-242.)

Revolusi Arab Palestina

Pada Februari 1936, Revolusi meledak, ketidakpuasan atas tuntutan yang tidak mencapai kata sepakat dengan Inggris menyalakan api emosi warga Arab Palestina dan menjadi Konflik Israel dan Palestina

Mereka tidak menoleransi apapun lagi, terjadi aksi teror terhadap Yahudi dan begitupun sebaliknya pembunuhan terhadap warga Arab Palestina, dan kekerasanpun terus meningkat

Konflik yang terus menyebar di seluruh wilayah Palestian yang menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa dari kedua belah pihak.

Di lain sisi, Inggris menggunakan Anti-Stategi untuk menjinakan demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat Arab Palestina.

Untuk menghentikan konflik yang terjadi tentara Inggris menyerang balik para demonstran sehingga menembah korban pada masyarakat Arab Palestina.

Peristiwa ini semakin memperparah keadaan yang mana malah semakin meningkatnya jiwa nasionalisme masyarakat Palestina dan kemudian membentuk kolompok-kelompok dan organisasi-organisasi bersenjata untuk melakukan perlawanan.

Peran Negara-Negara Arab

Melihat fenomena ini beberapa negara Arab berusaha ambil bagian untuk menengahi masalah ini, komite Arab menemui pemerintah Inggris dan juga perwakilan dari Zionis Israel.

Hasilnya pada tanggal 10 Oktober 1936, Raja Bin Saud, Raja Ghazy, dan Pangeran Abdullah mengeluarkan pernyataan kepada masyarakat Palestina.

Isi Pernyataan Negara-Negara Arab

“kami sangat terluka oleh keadaan yang sekarang terjadi di Palestina, dan kami bersepakat dengan raja-raja Arab.

 Pangeran Abdullah menyerukan kepada anda untuk mengambil jalan damai untuk menghentikan pertumpahan darah, dengan mempercayai maksud baik teman kita (pemerintah Inggris).

 Dan hasrat yang di deklarasikannya untuk mencapai keadilan, dan dengan kepercayaan bahwa kita akan terus melanjutkan usaha untuk membantu anda.”

Sebagai akhirnya, komite deklarasi arab tertinggi mendeklarasikan akhir dari pertikaian serta pemboikotan, dan menyerukan kepada masyarakat Palestina untuk berdoa kepada jiwa para syuhada yang gugur saat perang yang mencapai 2000 jiwa warga Arab.

Sumber : Fawzy Al-Ghadiry. Sejarah Palestina : Asal Muasal Konflik Palestina – Israel. Yogyakarta: Book Marks, 2010 hal 70

Respon Inggris Terhadap Negara-Negara Arab

Pada 7 Juli 1937, komite kerajaan Inggris yang dipimpin oleh Lord Bill menerbitkan sebuah laporan yang mendemonstrasikan pandangan para pemimpin Arab dan Yahudi.

Komite itu merekomendasikan bahwa kasus Palestina tidak dapat diatasi, kecuali dengan dasar saran pembagian Palestina. Berikut adalah saran-saran utama proyek pembagian Palestina

Saran Pembagian Palestina

Konflik Israel dan Palestina
wikipedia
  • Pendirian Sebuah Negara Yahudi

Pembangunan sebuah negara Yahudi yang memisahkan bagian utara dan selatan Palestian. Negara itu meluas sepanjang pesisir Libanon hingga selatan Jaffa.

Artikel Lainnya [Diplomasi Adalah Bakat Yang Tidak Semua Orang Sadari]

Pembagian ini meliputi Acre, Haifa, Safad, Typerias, Nazaret, dan Tel Aviv. Negara itu akan dihubungkan dengan Inggris oleh perjanjian dan aliansi persahabatan.

  • Tempat Suci

Tempat tempat suci yang berada dibawah mandat Inggris, yang meliputi Yerusalem dan Bethlehem, Keduanya akan dihubungkan dengan Jaffa memlaluin jalan lintas meliputi Allud, Al-Ramla, dan juga Nazzaret. Mandat Inggris akan bertanggung jawab untuk melindungi tempat-tempat itu.

  • Tanah Palestina

Tanah-tanah Palestina akan meliputi bagian selatan dan timur Palestina, yaitu kota Jaffa hingga timur Yordania. Wilayah ini akan dihubungkan dengan Inggris melalui perjanjian dan aliansi persahabatan.

  • Pembayaran Finansial

Orang Yahudi harus membayar bantuan finansian kepada negara Arab, sementara Inggris mendonasi satu juta kepada negara Arab.

  • Pertukaran

pertukaran orang antara negara Arab dan Yahudi akan dilakukan, dimana orang-orang arab yang berjumlah 325 akan dipindahkan dari negara Yahudi ke negara Arab secara berangsur-angsur.

  • Perjanjian Adat

Perjanjian adat akan di tandatangani oleh dua negara untuk menyatukan pajak antara mereka atas barang yang paling banyak di impor.

Rangkuman Saran Pembagian Palestina

Untuk pemukiman Yahudi, area tanah yang di dapat oleh institusi maupun individu Zionis pada tahun 1936 telah mencapai 1.200.000m2, dan jumlah pemukiman berlipat ganda, jumlah pemukiman meningkat mencapai 203 pemukiman.

Atas pembagian ini Arab Palestina bereaksi keras dan lebih memilih untuk melanjutkan perlawanan.

Hal inilah yang membuat penundaan dan penerapan resolusi pembagian yang telah disepakati, Rakyat Palestina menilai bahwa proyek pembagian ini akan mengarah kepada berdirinya Negara Israel.

hal ini sangat terlihat pada bagian pertama yang mana perjanjian tersebut menyebutkan Negara Israel, yang mana belum ada kata kesepakatan sebelumnya terhadap pembagian wilayah teritorial bahkan penyebutan sebuah Negara.

Kemudian bangsa arab menilai bahwa ada upaya pengkerdilan bahkan akan menetapkan masyarakat Palestina merupakan sebuah masyarakat yang tidak memiliki Negara.

Hal ini dapat dilihat jelas pada poin ketiga resolusi yang menyebutkan tanah-tanah Palestina, Harapan warga Arab Palestina dengan adanya pembagian tersebut tidak semaata-mata hanya ingin menciptakan perdamaian.

namun lebih kepada berdirinya Palestina sebagai negara yang independen dalam pemerintahannya.

Sumber :  Ibid Fawzy Al-Ghadry, Sejarah Palestina…Hal 71-73

Kegagalan Proyek Pembagian Palestina dan Israel

Karena gagalnya penerapan proyek pembagian tanah Palestina karena terus mendapat protes keras bangsa Arab, maka kemudian ada upaya dari komite Arab, PBB dan pemerintah Inggris untuk kemudian memikirkan kembali resolusi pembagian Palestina.

Dunia Internasional mulai menekan PBB untuk menyikapi dengan serius terhadap apa yang terjadi antara Palestina dan Israel.

ketika ini tidak mendapatkan solusi maka mungkin akan menimbulkan pecahnya Perang Dunia ketiga, antara Negara Muslim dengan Yahudi.

Isu ini sudah melebar bukan saja masalah politik dan ekonomi, melainkan telah mencapai tentang harga diri masing-masing agama.

Trauma akan perang dunia kedua belum sembuh di mata dunia sehingga masyarakat internasional tidak akan sanggup menyaksikan perang lagi.

Penutup

Akhirnya pada September 1947, PBB besrta komite Arab dan pihak Inggris mengeluarkan resolusi pembagian Palestina, yang mana resolusi tersebut mengatakan Palestina akan dibagi menjadi dua negara. hal ini menjadi pemicu lagi Konflik Israel dan Palestina

Dua Negara yaitu negara Arab dan Negara Yahudi. Dan kota suci Yerusalem akan menjadi mandat internasonal yang akan diatur oleh PBB

Namun lagi-lagi masyarakat arab tidak menyepakati kerena setelah pembagian dan perhitungan pemilikan hak tanah, tanah Palestina hanya mencapai 44% saja (Israel 56%). Karena tanah-tanah sudah di beli oleh institusi, perusahaan dan individu Zionis.

Hal ini yang menimbulkan kemarahan karena Arab Palestina melihat bahwa mereka telah di usir dari tanahnya sendiri oleh bangsa pendatang.

Banyak kalangan yang membahas Konflik Israel dan Palestina Resolusi PBB, Salah satunya anda bisa membaca mengenai  analisa Resolusi PBB nomor 181 29 November tahun 1947 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here