Dalam Perspektif Perkembangan Ilmu

teori hubungan internasional
Sumber: theodysseyonline.

Ilmu Hubungan Internasional – Dalam mempelajari ilmu Hubungan Internasional tentunya para akademisi harus memahami tentang dinamika dan berbagai variasi pemikiran yang muncul. Tanpa pemahaman yang sungguh-sungguh tentu akan mengalami kesulitan dalam menelaah teori-teori yang ada. Menurut Thomas Khun pembentukan teori-teori keilmuan itu diawali oleh proses konsolidasi dan integrasi dari pandangan-pandangan yang saling bertentangan, kemudian oleh salah seorang dirumuskan sehingga mempunyai arti. Proses ini menciptakan sesuatu yang oleh khun disebut “paradigma”. Paradigma bisa diartikan sebagai asumsi dasar suatu bidang studi, termasuk kesepakatan tentang kerangka konseptual, petunjuk metodologis dan teknik analisis. Fungsi paradigma adalah menuntun ilmuwan untuk menentukan masalah-masalah mana yang penting untuk diteliti, menunjukkan cara bagaimana masalah itu harus dikonseptualisasikan, metode apa yang cocok untuk menelitinya dan bagaimana cara menginterpretasikannya.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, Khun berpendapat ilmu berkembang lebih banyak melalui kesepakatan para ilmuwannya. Mengenai suatu teori dapat diterima atau ditolak ternyata semata-mata bukan karena pertimbangan rasional atau berdasarkan kekuatan logikanya. Akan tetapi lebih kepada pertimbangan irrasional, yaitu kesepakatan dalam komunitas keilmuwan. Menurut Khun ilmu berkembang melalui tahap-tahap dimana setiap tahapan didominasi oleh suatu paradigma. Perkembangan kemajuan terjadi ketika kesepakatan lama terganggu karena adanya anomali yang tidak bisa diselesaikan dengan paradigma lama dan yang melibatkan kekacauan serta kebingungan. Hal ini kemudian mendorong timbulnya suatu paradigma baru untuk menggantikan paradigma lama melalui revolusi pemikiran.

Berbeda dengan Khun, Karl Popper mengasumsikan bahwa ilmu berkembang secara rasional dan akumulatif. Yaitu melalui proses falsifikasi dan penemuan baru. Dalam proses ini teori-teori dalam bidang ilmu yang bersangkutan terus-menerus dihadapkan pada tes falsifikasi atau sebuah kritik tentang kesalahan-kesalahan pada teori-teori tertentu. Semakin banyak teori-teori yang lulus tes falsifikasi semakin maju limu tersebut. Begitu juga sebaliknya, bidang keilmuan yang teori-teorinya banyak yang tidak lulus tes falsifikasi maka bidang keilmuan tersebut tidak perlu dianut. Dengan demikian seorang illmuwan untuk mendukung atau menolak suatu teori berdasarkan pertimbangan obyektif, yaitu teori itu lulus tes falsifikasi atau tidak.

Makna dan Ruang Lingkup

Alasan mengapa mempelajari ilmu Hubungan Internasional tidak terlepas dari fenomena internasional yang terus berkembang melewati batas dimensi ruang dan waktu. Fenomena-fenomena tersebut sangat mempengaruhi kebijakan domestik baik dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan dll. Anggaran belanja dan pendapatan suatu negara sangat tergantung pada sektor eksternal, baik dalam bentuk perdagangan maupun bantuan luar negeri. Selain itu, mempelajari il Hubungan Internasional merupakan sebuah pengetahuan yang bermanfaat. Bidang ini mempunyai sumbangsih besar pada pengetahuan akademik maupun untuk perbaikan kehidupan manusia. Sebagai pengkaji ilmu sosial, ilmu Hubungan Internasional mempunyai arti penting dalam segi hubungan antar manusia yang melintasi batas negara.

Asumsi dasar dalam studi hubungan internasional adalah potensi bahaya bisa dikurangi dan kemungkinan menciptakan perdamaian bisa ditingkatkan. Karena ketidak mampuan untuk berbuat sesuatu demi peningkatan perdamaian dapat berakibat fatal. Para penstudi hubungan internasional sangat merasakan mendesaknya kebutuhan itu untuk menghindari perang dan meningkatkan perdamaian.

Pada dasarnya tujuan utama studi hubungan internasional adalah mempelajari perilaku internasional, yaitu perilaku para aktor, baik negara maupun non-negara. Perilaku itu bisa berwujud perang, kerjasama, konflik, pembentukan aliansi, interaksi dalam organisasi internasional dsb. Secara lebih sepesifik, studi hubungan internasional bisa dipilah ke dalam kedua belas kelompok pertanyaan fundamental yang diajukan oleh Karl Deutsch dalam berbagai bidang yang berbeda, yaitu: bangsa dan dunia, proses transnasional dan interdependensi internasional, perang dan damai, kekuatan dan kelemahan, politik internasional dan masyarakat internasional, kependudukan versus pangan sumberdaya alam dan ligkungan, kemakmuran dan kemiskinan, kebebasan dan penindasan, persepsi dan ilusi, aktivitas dan apatis, revolusi dan stabilitas, identitas dan transformasi. Semua pertanyaan dalam bidang-bidang itu merangsang kegiatan para pengkaji hubungan internasional.

Tingkat-Tingkat Analisa

Kewajiban awal yang harus ditangani oleh analisis hubungan internasional adalah menemukan sasaran analisa yang tepat, yaitu kemungkinan memilih dari berbagai tingkat analisa. Dalam memilih tingkat analisa hendaklah menetapkan unit analisa, yaitu perilakunya yang akan digambarkan, dijelaskan dan diprediksikan. Kemudian menetapkan “unit eksplanasi”, yaitu dampak dari unit analisa yang hendak diamati. Jadi masalah awal yang harus ditetapkan adalah apa yang harus diamati atau ditelaah dalam mempelajari hubungan internasional. Yaitu apa yang dipakai sebagai unit eksplanasi dan pada tingkat mana analisa harus ditekankan.

Identifikasi Tingkat Analisa

Dalam mempelajari ilmu hubungan internasional, para analis perlu mengidentifikasi tingkat eksplanasi demi proses pembentukan teori. Proses yang harus ditempuh, ilmuwan melakukan dua hal:pertama, menunjukkan apa unit analisanya dan fenomena mana yang hendak dijelaskan. Kedua, ilmuwan harus menentukan unit eksplanasinya, yaitu unit yang dianggap sebagai variabel independen dan perilakunya hendak diamati.

Cara mengidentifikasikan tingkat analisa, banyak ilmuwan telah memberikan landasan mengenai cara-cara tersebut. Menurut Kenneth Waltz, ilmuwan yang pada pertengahan tahun 1950-an mempelopori penerapan tingkat analisa sebagai kerangka berpikir dalaml sebuah bukunya, mengidentifikasikan tiga tingkat analisa yaitu; individu, Negara dan system internasional. J. David Singer menekankan pada dua tingkat analisa, yaitu Negara dan system internasional. Menurut singer dua tingkat analisa itu yang paling efektif untuk mendeskrisipkan, menjelaskan dan meramalkan fenomena internasional. Ilmuwan lain, john Spanier juga mengidentifikasikan tiga tingkat analisa, yaitu tingkat sistemik, tingkat Negara-bangsa dan tingkat pembuat keputusan. Akan tetapi beberapa tingkat analisa yang telah dirumuskan oleh para ilmuwan diatas bisa disimpulkan menjadi lima tingkat analisa, yaitu: individu, kelompok individu, Negara-bangsa, kelompok Negara-negara dalam satu region dan sistem global.

Jalan Sistematis Menuju Pengetahuan

Setelah perang dua I, perkembangan ilmu hubungan internasional didominasi oleh dua pendekatan akademis, “tradisionalis” dan “saintifik”. Perkembangan tradisionalis berkembang pada masa awal perkembangan studi ini, menurut Charles A. McClelland, pada waktu itu ilmu hubungan internasional memerlukan pengetahuan yang sangat banyak. Sehingga hanya mampu dilakukan oleh mahasiswa paska sarjana yang sudah matang. Alasannya adalah sebagai berikut:pertama, para akademisi hubungan internasional harus memahami sejarah dari berbagai Negara dan bahasanya. Kedua, untuk memperoleh pengetahuan dari bangsa-bangsa lain, diperlukan pengalaman langsung dengan menetap atau meneliti yang bersangkutan. Ketiga, pengetahuan yang mendalam hanya dapat diperoleh dari hasil telaah yang mendalam dan sifatnya terbatas. Untuk mendapatkan pengetahuan yang menyeluruh diperlukan kerjasama. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila ilmu hubungan internasional pada awalnya berkembang melalui para tokoh-tokoh besar sekaligus sebagai pelaku hubungan internasional. Karena para tokoh-tokoh itulah yang mempunyai pengalaman langsung. Sebut saja Dante, Machiavelli, Henry Kissingger, Winston Churcill, Grotius dll.

Pendekatan tradisional ini mendapat kritikan tajam dari aliran saintifik terutama yang muncul setelah revolusi behavioralisme dalam ilmu social. Para ilmuwan saintifik menolak bahwa untuk memperoleh ilmu hubungan internasional jalan satu-satunya melalui proses yang dianjurkan oleh para penganut wisdom outlook itu. Pendekatan saintifik didasarkan pada keyakinan banyak hal baru dalam perilaku internasional yang bisa dipelajari dan bahwa kita bisa melakukan penemuan tentan arus interaksi yang merupakan esensi hubungan internasional. Ilmuwan pola-pola pengulangan dan keajegan-keajegan perilaku internasional. Tujuan saintifik adalah mempelajari pola-pola keajegan sehingga bisa meneliti ramalan kemungkinan apa yang akan terjadi.jadi yang dilakukan oleh para aliran saintifik adalah menemukan keccenderungan yang mungkin terjadi, bukan meramalkan suatu peristiwa yang pasti terjadi.

Konsep Hubungan Internasional

Untuk memahami fenomena internasional, misalnya Negara-bangsa diperlukan penyederhanaan dengan konseptualisasi. Hal itu digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang fenomena internasional. Seperti diketahui, dalam berpikir manusia menggunakan bahasa, yaitu sesuatu system komunikasi yang terdiri dari symbol-simbol dan serangkaian aturan yang memungkinkan berbagai pengkombinasian symbol-simbol itu. Sedangkan konsep adalah salah satu symbol yang paling penting dalam bahasa. Ilmu atau sains memulai dengan menciptakan konsep-konsep untuk mendeskripsikan dunia empiris.

Suatu konsep adalah abstraksi yang mewakili suatu obyek, sifat suatu obyek atau suatu fenomena tertentu. Jadi konsep adalah sebuah kata yang melambangkan suatu gagasan. Dengan kata lain, konsep digunakan untuk menyederhanakan suatu yang kompleks dengan mengkatagorikan hal-hal yang ditemui berdasar cirri-ciri yang relevan. Jadi secara sepesifik, fungsi konsep adalah pertama, konsep dipahami secara bersama oleh berbagai ilmuwan untuk memungkinkan terjadinya komunikasi diantara mereka. Tanpa kesepakatan tentang makna suatu konsep tidaklah mungkin terjadi komunikasi itu. Fungsi kedua, adalah memperkenalkan suatu sudut pandang. Konsep berfungsi memperkenallkan suatu cara mengamati fenomena empiris. Melalui konseptualisasi saintifik, dunia perceptual dibuat teratur dan utuh. Konsep juga memungkinkan ilmuwan melakukan interaksi dengan lingkungan, yaitu dengan cara member definisi tentang apa yang dimaksudkannyadengan konsep itu dan menggunakan konsep sesuai dengan makna yang didefinisikannnya.ketiga, konsep berfungsi untuk mengorganisasikan gagasan, persepsi dan symbol. Yaitu dalam bentuk klsifikasi dan generalisasi. Dengan menggunakan konsep ilmuwan melakukan katagorisasi, strukturisasi, penataan dan generalisasi fenomena yang diamatinya. Fungsi yang keempat adalah menjadi batu-bata yang disebut teori. Karena teori berkaitan erat dengan eksplanasi dan prediksi, makna konsep juga berkaitan dengan batu-bata yang disebut eksplanasi dan prediksi itu. Konsep merupakan unsure yang paling penting dalam teori karena konsep menentukan isi dan bentuk teori.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here