Hampir dalam sebulan ini kata kafir menjadi perbincangan paling heboh di sosial media, hal ini tidak terlepas dari hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konfrensi Besar Nahdhatul Ulama.

Ada lima rekomendasi yang dihasilkan dari musyawarah ini salah satunya adalah dengan tidak menyebutkan warga negara yang non muslim dengan kata KAFIR melainkan diganti dengan kata Muwathin atau warga negara.

Yang membuat hasil rekomendasi ini menjadi hangat diperbincangkan bahwa ada larangan untuk tidak menyebutkan kata kafir kepada mereka yang non muslim, pertanyaannya adalah sejak kapan negara menyebutnya dengan kata kafir?

Sejak lahirnya konstiusi sudah jelas bahwa dalam konstitusi warga negara indonesia sering disebutkan dengan kata “Tiap-Tiap Warga Negara” ataupun Setiap Warga Negara Indonesia.

Dalam konstitusi sudah jelas, para penyusun konstitusi sudah berpikir bahwa masyarakat indonesia disebut sebagai warga negara tanpa melabeli dengan golongan agama, ras dan suku. agar semuanya sama dimata negara.

Kategori Kafir

Menurut hasil Munas dan Konfrensi Besar Nahdhatul Ulama bahwa rekomendasi tersebut bukan menghapus kata kafir yang berada di alquran, melainkan menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selain itu jika dilahat dalam dengan kacamata Fiqh bahwa mereka warga negara indonesia yang non muslim tidak termaksud dalam ke empat kategori kafir.

Selain itu kualifikasi negara terhadap warga negara tidak berdasarkan agama, golongan dan lain sebagainya. semua sama dan tunduk dimata hukum indonesia.

Berikut ini empat kategori Kafir.

Kafir Harbi, Yaitu mereka orang kafir yang memerangi umat islam.

Apakah di indonesia ada non muslim yang memerangi umat islam? jawabanya pasti tidal ada.

Kafir Dzimmi, Yaitu orang kafir yang tinggal disuatu negara pemerintahan islam, memiliki perjanjian damai dengan muslim dan membayar Jizyah kepada pemrintahan islam.

Ini pun tidak termaksud, indonesia bukanlah negara Islam meskipun 70% mayoritas warga negaranya beragama islam.

Kafir Muahid, Yaitu orang kafir yang memiliki perjanjian tertentu (dagang, damai dan lain-lain) serta dalam batas waktu tertentu, mereka tidak boleh diperangi.

Konstitusi sudah mengatur, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaan itu.

Kafir Mustamin, yaitu orang kafir yang datang ke negara muslim, mereka diberikan perlindungan keamanan baik oleh pemimpin ataupun seorang muslim.

Konteksnya jelas, semua warga negara indonesia sudah dijamin dalam konstitusi.

Duduk Persoalan Kata Kafir

Jika mereka warga negara yang merupakan non muslim tidak termaksud dalam 4 kategori kafir, dzimmi, harbi, muahid dan musta’min mengapa penghapusa kata kafir menjadi polemik.?

Tidak Ada Yang Memanggil Kata Kafir Sebelumnya

Masyarakat menilai bahwa rekomendasi ini terlalu dipaksakan untuk dikeluarkan, karena sejauh ini dalam kehidupan sosial dan beragama warga indonesia tidak pernah memanggil saudaranya yang non muslim dengan sebutan Kafir.

Dalam berinteraksi semua warga negara memanggil atau menyapa mereka yang non muslim dengan nama panggilan mereka masing-masing, bahkan dengan bahasa haluspun hai non muslim.

Karena sangat jelas ini akan sangat menyinggung perasaan mereka dan mereka yang muslim tidak tega untuk mengatakan itu.

Jika kata KAFIR adalah sebuah kata yang bermakna teologis dan mengandung kekerasan maka kata Muwathin juga merupakan bahasa yang masih asing, belum diserap ke bahasa indonesia.

Sehingga memanggil warga negara yang non muslim dengan panggilan “Hai Kafir”, “Hai Muwathin” bahkan “Hai Non Muslim” ini jelas tidak ditemukan dalam konteks kehidupan dan interaksi sosial sesama warga negara.

Istilah Kafir itu tidak dikenal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti kata Said Agil Siradj yang dilansir dari tribunnews. ini memang benar adanya, sehingga tidak menjadi soal apalagi harus dibahas dalam agenda dan menjadi rekomendasi.

Jangankan kata kafir, bahkan menghina warga negara dalam konteks apapun akan diproses negara secara hukum, karena melanggar undang-undang.

Polemik Penghapusan Kata Kafir

Munas sudah berakhir dan rekomendasi sudah dilahirkan, yang menjadi polemik dikarenakan kata kafir itu merupakan kata yang berada dalam alquran, dan menghapus kata tersebut tentunya menjadi kata yang kontrofersial.

Meskipun memang NU sudah menegaskan bahwa rekomendasi tersebut intinya bukan menghapuskan ketetapan yang sudah ada dalam alquran. melainkan sebuah ijtihad untuk menjaga perdamain dan keutuhan bangsa.

Mereka yang berijtihad adalah para alim ulama dan sangat faqih dalam keilmuan beragama tentunya hal tersebut sudah di pertimbangkan dan demi kemaslahatan bersama.

Hanya saja indonesia adalah negara demokratis, bebas mengutarakan pendapat, yang tidak setuju kemudian merespon hal tersebut baik mereka orang biasa, selebriti, ustadz, ulama dan kiayi yang berbeda pendapat merespon hal tersebut karena di anggap menghapus kata kafir dalam alquran.

Kata kafir dalam alquran disebutkan sebanyak 525 kali dan memiliki berbagai macam makna.

Menurut KH Cholil Nafis sepeti yang dilansir dalam panjimas.com bahwa inti dari polemik dari kata kafir.

Pertama adalah tidak baik jika kita (umat muslim) takut menyebut orang yang tidak beriman dengan kata kafir (itu bahasa alquran).

Kedua tidak baik juga kalau kita umat muslim menyebut mereka dengan kata kafir terhadap orang yang tidak sependapat dengan dengan kita apalagi sebagai bentuk diskriminasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here