kesalahan politik

Politik adalah bagian dari kehidpuan sehari-hari, kita ada karena kita bisa berpolitik.

Politik adalah anugerah tuhan untuk umatnya agar dapat menyelesaikan tugasnya di muka bumi, hidup teratur damai dan tentram. itulah tujuan politik.

Jika kita maknai sejarah politik maka kita akan tahu bahwa tujuan politik untuk mendapatkan kehidupan di dunia yang lebih baik, begitulah penafsiran sederahana menurut Aristoteles.

Teori klasik Aristoteles ini kemudian seiring perkembangan zaman berubah dalam penerapanya. politik ditafsirkan secara mentah dan dipraktekan secara praktis.

Padahal politik merupakan ilmu pengetahuan, sesuatu yang diberikan tuhan dengan cara mempelajarinya, memahaminya lalu mempraktekan apa yang dipelajari dan apa yang di pahami.

Sayangnya sebagian orang yang mampu mempelajari namun gagal memahami, sehingga lahirlah politik praktis. siap pakai asal sampai pada tujuan politik.

Secara ilmu pengetahuan dan kelembagaan politik diartikan sebagai sebuah seni untuk mencari kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan baik diraih secara konstitusi maupun bukan.

Pemahaman itu berhenti sampai disitu saja, sangat minimalis, bahkan lebih sederhana dari apa yang disampaikan Aristoteles.

Tujuannya adalah berkuasa dan mempertahankan kekuasaan itu, apapun caranya, bagaimanapun bentuk prosesnya yang tujuanya bisa capai. halalkan semua cara.

Lalu Kenapa Politik Itu Tidak Salah

Sebagai ilmu pengetahuan maka politik dapat ditinjau dan di uji diruang-ruang akademik dan ruang publik, jika salah di perbaiki, jika keliru bisa dibenarkan dan jika ketinggalan bisa diperbaharui.

Jika di tempuh secara pendidikan maka dalam mempelajari ilmu politik banyak sekali ruang-ruang kelas dan mata kuliah yang harus dilewati.

Pengantar ilmu politik, Logika Politik, Etika Politik, komunikasi politik sistem politik, partai politik dan banyak lagi.

Semuanya dapat dipelajari, dipahami dan terstruktur dengan sistematis.

Oleh sebab itu maka produk politik itu tidak akan pernah salah.

Orang Hanya Salah Berpolitik

Imbasnya dari tidak mempelajari dan memahami politik berakibat pada praktik politik yang salah. kesalahan bisa saja dilakukan secara struktural dan terorganisir.

Sebagai orang yang pernah belajar politik dan menyandang gelar formal sebagai sarjana politik, hampir tidak menemukan praktik politik yang sesuai dengan apa yang dipelajari dan dipahami selama masa studi.

Setelah lulus ternyata studi kasus dilapangan mengenai politik ternyata berbeda dengan apa yang dipelajari. seperti ada ketimpangan besar antara lembaga pendidikan dengan kehidupan sosial politik di masyarakat.

Numun setidaknya ketimpangan ini bisa diurai, setidaknnya ada 3 faktor yang mempengaruhi.

Orang Tidak Belajar Politik dan Anti Politik

Sebenarnya jika dikaji lebih dalam maka orang yang anti kepada politik sebenarnya dia telah memiliki sikap politik.

Tapi masalahnya bukan disitu, tapi ada sebagian orang yang tidak belajar politik kemudian tidak peduli terhadap politik, padahal politik telah mengatur dirinya dan cara main di negaranya.

Sikap merasa bahwa politik itu adalah sesuatu yang menjijikan, kasar, manusia makan manusia (homo homini lupus). sehingga dengan bangganya menyatakan bahwa tidak ingin ambil andil dalam politik.

Seorang dosen saya dulu pernah berkata bahwa politik adalah jalan tol yang berakhir dineraka.

Padahal jika mereka coba sedikit belajar dan memahami tujuan dari politik maka ungkapan-ungkapan tentang politik diatas adalah sebagai pencegahan agar orang dapat berpolitik sesuai tujuan murni dari politik itu.

Coba dilihat di media sosial bahkan di kehidupan nyata banyak sekali orang yang memblokir/unfriend pertemanan hanya karena temanya ikut andil dalam politik.

Please jangan ngomong politik, yang ngomong politik saya unfriend

Sungguh sebuah sifat pengecut dengan pemikiran yang dangkal.

Orang Yang Tidak Belajar Politik Ikut Politik

Ketimpangan yang kedua yang menyebabkan GAP pada politik adalah orang yang tidak belajar politik dan ikut aktif dalam berpolitik.

Hasil dari sini sangat jelas, bahwa ini akan mengarah kepada politik praktis pragmatis, tidak ada filter dan imun dalam tindakan politiknya.

Belajar politik tidak mesti harus menempuh pendidikan formal saja, tapi harus tetap wajib belajar politik.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan, misalkan dengan mengikuti pengkaderan partai politik.

Sekarang ini bisa dilihat banyak orang yang terjun ke dunia politik hanya karena memiliki uang, politik dinilai dan diukur sebagai sebuah barang komuditas, punya akan dan dapat dibeli.

Lihatlah bagaimana lahirnya banyak caleg-caleg baru yang tidak melalui rekrutmen politik dan pengkaderan politik.

Jika dulu seorang kader partai yang ikut caleg mementingkan kepentingan partainya dulu, saat ini mungkin sudah tidak lagi. Caleg berjuang untuk dirinya sendiri. bagaimanapun caranya agar bisa terpilih.

Akhirnya jelas, kebijakan-kebijakanya sangat pragmatis hanya berdasarkan kebenaran pribadi dan keberhasilan-keberhasilan yang sudah dicapai.

Inilah tanda orang yang salah berpolitik.

Orang Yang Belajar Politik, Paham Politik dan Salah Praktek

Faktor yang ketiga bukan hanya parah, namun berbahaya. seorang yang belajar politik dan paham politik namun sangat pragmatis dan oportunis.

Orang pandai seperti ini dapat menjerumuskan 2 faktor diatas. dengan keilmuan dan pemahaman yang dia miliki sangat sulit untuk dibantah.

Sehingga praktek politik yang salah bisa di anggap benar dan benar bisa disalahkan.

Sikap politik itu pasti berbeda, beda namun politik tidak boleh melahirkan perbedaan, karena tujuannya hanya satu, yaitu agar mendapatkan kehidupan lebih baik di dunia ini.

Seorang politikus wajib merebut kemenangan dengan cara-cara yang dibenarkan, ada etika dan estetika serta tidak menyalahi konstitusi.

Begitupun cara mempertahankan kekuasaan, jika semuanya benar maka tidak ada politik yang salah dan tidak ada orang yang salah dalam berpolitik.

Akhirnya kesepakatan bersama dapat melahirkan kehidupan aman dan tentram, sejahtera serta adil dan makmur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here