Sogo Shosha : Rahasia Sukses Ekonomi Jepang, UMKM Wajib Tiru

44

Secara harafiah, Trading House terdiri dari dua kata yaitu trading yang berarti dagang dan house yang berarti rumah.

Disebut rumah karena dalam kegiatan ini mencakup berbagai macam barang yang ada di dalamnya dan disebut dagang karena menunjukkan kegiatan yang berlangsung berkaitan dengan perdagangan yang dapat berbentuk ekspor, domestik maupun lokal.

Trading House mempunyai kriteria sebagai berikut

  • Perdagangan internasional
  • Agen ekspor
  • Promotor
  • Integratol
  • Manajemen ekspor impor
  • Agen pembelian.

Trading House tersebut, katanya, berfungsi membangun “networking” (jaringan) pasar di berbagai kawasan perdagangan, misalnya untuk memasuki kawasan Eropa Barat.

Trading house memiliki perwakilan dan infrastruktur pemasaran di sana, misalnya di Amsterdam.

Trading House ini menampung hasil produksi usaha-usah kecil dan menengah, misalkan dari Indonesia dan memasarkan secara langsung melakukan networking dengan pembeli di berbagai negara di Eropa.

Dengan cara demikian, usaha kecil dan menengah dapat mengakses langsung “buyer” di Eropa dengan biaya yang murah.

Trading house tidak mungkin didirikan oleh usaha kecil dan menengah, tetapi harus dibangun oleh pemerintah sebagai bentuk public service (pelayanan publik).

Tetapi tentu saja ia harus bisa hidup dari hasil pedangan ini. Trading house ini merupakan cikal bakal lahirnya perusahan skala besar yang bisa menjadi Multi National Corpoation (MNC), seperti misalnya Sumitomo, Marubeni, Itochu yang dalam sejarahnya memang seperti itu.

Trading House dan UKM di Indonesia

Terdapat beberapa manfaat trading house bagi UKM, seperti Membuka akses pasar luar negeri bagi UKM, Meningkatkan omzet produksi UKM, Membantu UKM dalam hal pendanaan, pasar; dan mutu produksi, teknologi dan lain-lain, Memberi informasi pasar bagi UKM, Meningkatkan daya saing UKM, Membangun rasa saling percaya antara Trading House dengan UKM, Meningkatkan devisa nasional, meningkatkan PAD dan pasar serta Menyerap tenaga kerja.

Trading House akan memberi layanan jasa kepada UKM, yaitu : (a). Penelitian pasal, (b). Identifikasi calon pembeli, (c). Negosiasi penjualan, (d). Jaringan pemasaran, (e). Teknologi dan pengemasan, (t). Menyediaan bahan baku, (g). Informasi pasar luar negeri, (h). Pembinaan dan pengembangan dan (i). Akses permodalan. Trading House perlu diberi badan hukum, berbagai bentuk badan hukum yang dapat digunakan antara lain: (a). Individu, (b). Koperasi, (c). PT, (d). Gabungan beberapa orang dan, (e). BUMN atau BUMD.

Sumber permodalan Trading House dapat berasal dan (a). Modal perorangan, (b). Penjualan kepada lembaga keuangan, (c). Pinjaman lunak kepada donor; (d). Investor; (e). Penjualan saham, (t). Kredit bergulir dan (g). Modal ventura. Trading House mempunyai landasan operasional yaitu : (a). Mandiri, (b). Kemampuan antisipasi dinamika pasar, (c). Kemampuan tumbuh dan menguntungkan, (d). Dinamis, (e). Bertanggung jawab dan sosial.

Studi tentang UKM telah banyak dilakukan, utamanya pada saat krisis ekonomi menerpa perekonomian Indonesia semenjak pertengahan 1997.

Deteksi atas UKM mengarah pada muara kurang lebih sebagai berikut :

pada dasarnya UKM mempunyai potensi untuk berkembang, baik dalam omset maupun penyerapan tenaga kerja, tetapi secara umum setiap peluang yang ada belum dimanfaatkan secara optimal.

Peluang ini tidak harus diartikan hanya yang ada pada setiap individu UKM tetapi semua sumber daya yang ada yang dapat dimanfaatkan oleh UKM.]

Tetapi produk mereka umumnya skala kecil dan lemah dari sisi pengembangan produk (product development).

Karena itulah mereka memerlukan bantuan dari perusahan “trading house” semacam Sogo Shosha yang bisa mengantarkan mereka memasuki pasar global.

Rahasia Sukses ekonomi Jepang

Sogo Shosha merupakan gabungan perusahaan yang terlibat dalam berbagai lapangan perdagangan yang besar.

Jika kita berbicara tentang suksesnya perekonomian Jepang, ternyata yang menjadi titik awal berkembangnya adalah mulai dari SOGO SHOSHA

Trading house ala Jepang ini merupakan gabungan perusahaan besar Jepang dengan mengelola berbagai jenis perdagangan, yang akhirnya menginspirasi beberapa negara didunia menerapkan sistem yang hampir sama demi kemajuan negara mereka.

Dengan kata lain, sogo shosha adalah gabungan konglomerat yang terlibat dalam berbagai lapangan perdagangan besar.

Banyak yang memperkirakan kalau perusahaan sogo shosha baru tumbuh setelah Perang Dunia II. Namun, sebenarnya, perusahaan-perusahaan seperti ini telah ada sejak abad 19, yaitu pada akhir era pemerintahan Tokugawa.

Perusahaan sogo shosha pertama adalah Mutsui Bussan yang didirikan pada tahun 1876 dan Mitsubishi Shoji pada tahun 1918.

Perusahaan-perusahaan lain yang didirikan sebelum Perang Dunia II meletus adalah C-Itoh, Marubeni, Iwai, Nissho, Kanematsu, Ataka, Asano Bussan, dan Okura Shoji.

Sebenarnya, masih banyak perusahaan sogo shosha yang aktif dalam dunia bisnis dan perdagangan di dalam dan luar negeri. Meskipun sejarah perkembangan dan perjalanan mereka sering mengalami pasang-surut, perusahaan perusahaan itu memberi sumbangan yang cukup penting dalam kebangkitan Jepang sebagai penguasa ekonomi, baik sebelum maupun sesudah perang.

Persaingan di antara perusahaan-perusahaan ini menyebabkan para pekerjanya, dari atasan sampai bawahan, bekerja dengan keras dan bersungguh-sungguh, sehingga menghasilkan kemajuan yang luar biasa.

Bangsa Jepang dikenal sebagai bangsa yang kuat dan pandai meniru. Peniruan yang mereka lakukan cukup kreatif, sehingga mampu menambah nilai pada produk yang mereka tiru.

Jepang dikenal dengan penelitian yang bertaraf internasional. Penelitian merupakan salah satu aspek penting pada perusahaan sogo shosha.

Penelitian dan pendidikan membuat perusahaan perdagangan dan organisasi Jepang mampu maju dan bersaing dengan perusahaan Barat.

Dan persaingan itu, muncullah tenaga-tenaga kerja dengan kemahiran tinggi. Itulah salah satu faktor yang menjadikan Jepang sebagai penguasa ekonomi terunggul di Asia dan juga dunia.

Faktor itulah yang menjadi dasar keberhasilan Jepang dalam bidang ekonomi. Banyak negara yang berusaha mengikuti langkah Jepang, termasuk mempelajari dan menerapkan budaya kerja Jepang dalam sektor negeri dan swasta.

‘SOGO SHOSHA menuju kemandirian ekonomi bangsa[

Selanjutnya tentang bagaimana usaha Jepang dalam mengendalikan perdagangan asing ditangan mereka yang selama waktu itu telah di dominasi oleh perusahaan asing, yaitu juga dengan strategi ‘SOGO SHOSHA’, sehingga itu merupakan  jalan kemandirian bangsa Jepang menuju kemajuan ekonomi hingga saat ini.

Sebuah majalah mingguan “THE ECONOMIST di Inggris saat itu menuliskan mengenai perusahaan-perusahaan niaga Jepang secara terus menerus di pertengahan 1960an mengalami kemajuan yang luar biasa dan mengatakan : ” SOGO SOSHA” sebagai KUNCI SUKSES dalam kegiatan Eksport ‘Jepang’

Dan dalam ‘FAR EASTERN ECONOMIC REVIEW ‘ memaparkan sbb :

“Kalau kita harus memilih satu faktor penyebab pertumbuhan perekonomian Jepang yang luar biasa sejak ‘PERANG DUNIA’ II, tidak akan diragukan lagi bahwa faktornya adalah keahlian tanpa tanding dari bangsa itu dalam perdagangan luar negeri.

Di pusat jaringan sedunia dari operasi perdagangan, pemasaran dan keuangan ini, berdirilah sembilan (9) sogo sosha (perusahaan perniagaan umum) raksasa yang memainkan perdagangan Internasional Jepang yang kompleks dan beragam.”[

Sogo Shosha adalah merupakan organisasi Jepang yang ‘unik’ sebagai contoh, disini misalnya Mitsui Bussan, sogo shosha nomer 2 di Jepang, yg memperkerjakan 13.000 orang. dan memiliki jaringan di 181 kantor di kota-kota besar di dunia, serta menangani produk-produk yg beragam seperti : besi, baja, metal, bahan-bahan kimia, tekstil, bahan makanan dan mesin-mesin.

Perusahaan niaga demikian luas dan beragam seperti itu tidak terdapat di negara lain.

Jadi SOGO SHOSHA adalah merupakan INOVASI KEORGANISASIAN suatu pembaharuan yg didorong oleh permasalahan yang dihadapi negara itu dalam perdagangan Internasional.

Selanjutnya industrialisasi Jepang cukup banyak tergantung pada perdagangan luar negeri.

Mula-mula mesin harus diimport dari Barat, yang ditukar dengan eksport beras, sutera, teh dan produk-produk Jepang lainnya.

Mesin pada saat tersebut masih menduduki posisi penting dalam import keseluruhan Jepang.

Namun dengan majunya industrialisasi Jepang, bahan baku menjadi import yang paling penting. Perusahan 2 niaga menyediakan bahan baku secukupnya untuk para pabrikan, dan bila diperlukan melakukan investasi.

Mereka juga memasarkan produk-produk baru secara agresif ke negara Barat, serta melakukan eksport yang mungkin tidak dilakukan sendiri oleh para pabrikan Jepang.

Singkatnya perusahaan niaga merupakan kunci untuk perdagangan luar negeri Jepang. Pada titik ini ada 2 faktor yang membantu meningkatkan posisi sogo shosha dalam perekonomian Jepang,

Bank-bank besar mendapatkan bahwa sogo shosha merupakan rekanan usaha yang baik dan bank menyalurkan banyak dana kepada mereka.

Sogo Shosha menggunakan dana tersebut untuk bertindak sebagai perantara antara bank dan guna mendirikan cabang-cabang mereka sendiri atau menguatkan jalinan dengan kelompok perusahaan.

Maka mereka memperkuat kedudukan mereka dengan menjadi bagian dari modal.


[Sebagian besar diambil dari: Yoshihara Kunio,SOGO SHOSHA , Pemandu Kemajuan Ekonomi Jepang’ penerbit Gramedia PT, Jakarta.

[3] Dari:FAR EASTERN ECONOMIC REVIEW ‘edisi Febuari 1980,halaman 39)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here