www.liputan6.com

Pemilu hanya sudah memasuki menit menit terakhir, para politisi mulai dari Capres-Cawapres serta anggota dewan sudah tebar pesona kemana-mana.

Tujuannya hanya satu, untuk mendulang suara terbanyak agar menang pada pemilihan umum nanti.

Proses mendulang suara ini kemudian yang sering diributkan dan diperebutkan. Mulai dari milenial sampai menarik simpati “orang gila”.

Semuanya akan terlihat wajar demi memeriahkan pesta demokrasi terbesar di negeri ini.

Semenjak genderang kampanye sudah dimulai, setiap politikus mulai membidik kantong-kantong suara potensial yang dapat membuat mereka mendulang suara pada pemilihan nanti.

Semua orang pasti sudah tau siapa saja kantong-kantong suara potensial itu.

Beberapa diantaranya yang sering di ekspos dan di perebutkan yaitu

  • Suara kaum emak-emak
  • Suara Milenial
  • Suara Ulama
  • Suara Pengusaha
  • Suara Orang Sakit Jiwa

Hebohnya orang gila bisa memilih ini sudah dijelaskan oleh ketua KPU Arief Budiman, bahwa tidak ada orang gila yang bisa memilih, hanya saja orang yang tergangu jiwanya (GTDJ). bukan orang gila permanen yang ada di pinggir jalan.

Setiap kantong suara diatas memiliki pola dan strategi berbeda-beda untuk dapat meraih suara dari mereka.

Namun bisa disimpulkan bahwa calon yang berhasil mendulang suara dari kantong-kantong suara potensial diatas, maka dipastikan dialah pemenang pemilu.

Nah jika hal diatas sudah kebanyakan orang tau, maka ada juga ternyata yang tidak memiliki hak suara.

BOT di Sosial Media

Setiap pesta politik di Indonesia akan selalu disambut dan di meriahkan oleh akun-akun BOT yang merupakan penduduk asli sosial media.

Mereka paling ramai dan paling ribut, jika ada dua kubu yang bertarung maka kedua kubu akan saling serang dan menggalang dukungan.

Sayangnya militansi dari BOT tidak ada pengaruhnya saat pencoblosan nanti, berapapun banyaknya jumlah mereka, mereka tidak memiliki hak suara.

Warga Negara Asing yang Memegang KTP Indonesia

Media dibuat heboh dengan adanya temuan e-KTP Indonesia yang di pegang oleh warga negara asing.

Secara sekilas E-KTP warga negara asing dan E-KTP warga negara Indonesia akan tampak sama.

Ada 3 perbedaan utama yang membedakan KTP Indonesia dan WNA

  • KTP WNA punya masa berlaku
  • 3 Kolom KTP ditulis pakai bahasa inggris (Agama, Perkawinan, Pekerjaan)
  • WNA kewarganegaraannya di cantumkan di KTP

Dikutip dari Tempo.co menurut Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arif Fakhrullah mengatakan bahwa warga negara asing (WNA) yang memiliki KTP elektronik tidak memiliki hak pilih dalam Pemilu 2019.

“KTP elektronik itu tidak bisa digunakan untuk mencoblos. Karena syarat untuk mencoblos adalah WNI”

Sehingga polemik warga negara asing memiliki KTP tidak perlu lagi di permasalahkan, mereka tidak punya hak politik dan tidak bisa memilih pada pemilu nanti.

TNI dan Polri

TNI dan Polri merupakan 2 lembaga yang akan mengayomi dan menjaga pemilu agar berjalan dengan damai. sehingga TNI dan Polri berposisi netral dalam pemilu nanti.

TNI dan Polri tidak bisa terjun kepada politik praktis, oleh sebab itu pada Februari 2019 kemarin jajaran Propam polri dan POM TNI mengadakan rakernis (Rapat Kerja Teknis)

Tujuannya untuk memastikan dan mendisiplinkan personel agar tidak terlibat dari politik praktis serta menjaga netralitas.

Itulah beberapa orang yang tidak memiliki hak pilih pada pemilu nanti, semoga pemilu selalu berjalan aman dan tentram. gunakan hak suara anda untuk menentukan nasib indonesia kedepan.

Katakan Tidak Pada Golput

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here